Senin, 02 Januari 2012

ASKEP TUMOR OTAK

Definisi :
Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak

Klasifikasi Tumor Otak :
  1. Tumor yang berasal dari lapisam otak (meningioma dural)
  2. Tumor yang berkembang didalam / pada syaraf kranial
  3. Tumor yang berasal didalam jaringan otak
  4. Lesi metastatik yang berasal dari bagian tubuh mana saja

Patofisiologi :
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejala-gejala terjadi berurutan. Hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya sebaiknya dibicarakan dalam suatu perspektif waktu.
Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh 2 faktor gangguan fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompresi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis fokal.
Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi cerebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa, karena tumor akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku. Tumor ganas menimbulkan oedema dalam jaruingan otak. Mekanisme belum seluruhnyanya dipahami, namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel laseral ke ruang sub arakhnoid menimbulkan hidrocepalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oelh karena ity tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intra kranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus medialis lobus temporals bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan men ensefalon menyebabkab hilangnya kesadaran dan menenkan saraf ketiga. Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti nafas terjadi dengan cepat. Intrakranial yang cepat adalah bradicardi progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi dan gangguan pernafasan).

Tanda dan Gejala
Menurut lokasi tumor :
1.       Lobus frontalis
Gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi, bingung, tingkah laku aneh, sulit memberi argumenatasi/menilai benar atau tidak, hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara.
2.       Kortek presentalis posterior
Kelemahan/kelumpuhan pada otot-otot wajah, lidah dan jari
3.       Lobus parasentralis
Kelemahan pada ekstremitas bawah
4.       Lobus Oksipitalis
Kejang, gangguan penglihatan
5.       Lobus temporalis
Tinitus, halusinasi pendengaran, afasia sensorik, kelumpuhan otot wajah
6.       Lobus Parietalis
Hilang fungsi sensorik, kortikalis, gangguan lokalisasi sensorik, gangguan penglihatan
7.       Cerebulum
Papil oedema, nyeri kepala, gangguan motorik, hipotonia, hiperekstremitas esndi

Tanda dan Gejala Umum :
1.       Nyeri kepala berat pada pagi hari, main bertambah bila batuk, membungkuk
2.       Kejang
3.       Tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial : Pandangan kabur, mual, muntah, penurunan fungsi pendengaran, perubahan tanda-tanda vital, afasia.
4.       Perubahan kepribadian
5.       Gangguan memori
6.       Gangguan alam perasaa

Trias Klasik ;
-          Nyeri kepala
-          Papil oedema
-          Muntah

Pemeriksaan Diagnostik ;
1.       Rontgent tengkorak anterior-posterior
2.       EEG
3.       CT Scan
4.       MRI
5.       Angioserebral



Pengkajian :
1.       Data klien : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, golongan darah, penghasilan, alamat, penanggung jawab, dll
2.       Riwayat kesehatan   :
-          keluhan utama
-          Riwayat kesehatan sekarang
-          Riwayat Kesehatan lalu
-          Riwayat Kesehatan Keluarga
3.       Pemeriksaan fisik :
·         Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia, penurunan/kehilangan memori, afek tidak sesuai, berdesis
·         Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan kabur
·         Pendnegaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi
·         Jantung : bradikardi, hipertensi
·         Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan nafas, disfungsi neuromuskuler
·         Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes melitus
·         Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi

Diagnosa Keperawatan :
  1. Gangguan pertukaran gas b.d disfungsi neuromuskuler (hilangnya kontrol terhadap otot pernafasan ), ditandai dengan : perubahan kedalamam nafasn, dispnea, obstruksi jalan nafas, aspirasi.
Tujuan : Gangguan pertukaran gas dapat teratasi
Tindakan :
-          Bebaskan jalan nafas
-          Pantau vital sign
-          Monitor pola nafas, bunyi nafas
-          Pantau AGD
-          Monitor penururnan gas darah
-          Kolaborasi O2
  1. Gangguan rasa nyaman, nyer kepla b.d peningkatan TIK, ditndai dengan : nyeri kepala terutama pagi hari, klien merintih kesakitan, nyeri bertambah bila klien batuk, mengejan, membungkuk
Tujuan : rasa nyeri berkurang
Tindakan :
-          pantau skala nyeri
-          Berikan kompres dimana pada area yang sakit
-          Monitor tanda vital
-          Beri posisi yang nyaman
-          Lakukan Massage
-          Observasi tanda nyeri non verbal
-          Kaji faktor defisid, emosi dari keadaan seseorang
-          Catat adanya pengaruh nyeri
-          Kompres dingin pada daerah kepala
-          Gunakan teknik sentuham yang terapeutik
-          Observasi mual, muntah
-          Kolaborasi pemberian obat : analgetik, relaksan, prednison, antiemetik
  1. Resiko tinggi cidera b.d disfungsi otot sekunder terhadap depresi SSP, ditandai dengan : kejang, disorientasi, gangguan penglihatan, pendengaran
Tujuan : tidak terjadi cidera
Tindakan :
-          Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien
-          Pantau tingkat kesadaran
-          Orientasikan klien pada tempat, orang, waktu, kejadian
-          Observasi saat kejang, lama kejang, antikonvulsi,
-          Anjurkan  klien untuk tidak beraktifitas
  1. Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologi, ditandai dengan disorientasi, penurunan kesadaran, sulit konsentrasi
Tujuan : mempertahankan orientasi mental dan realitas budaya
Tindakan :
-          kaji rentang perhatian
-          Pastikan keluarga untuk membandingkan kepribadian sebelum mengalami trauma dengan respon klien sekarang
-          Pertahankan bantuan yang konsisten oleh staf, keberadaan staf sebanyak mungkin
-          Jelaskan pentingnya pemeriksaan neurologis
-          Kurangi stimulus yang merangsang, kritik yang negatif
-          Dengarkan klieen dengan penuh perhatian semua hal yang diungkapkan klien/keluarga
-          Instruksikan untuk melakukan rileksasi
-          Hindari meninggalkan klien sendiri
  1. Gangguan perfusi serebral b.d hipoksia jaringan, ditandai dengan peningkatan TIK, nekrosis jaringan, pembengkakakan jaringan otak, depresi SSP dan oedema
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang
Tindakan :
-          Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat menyebabkan penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK
-          Catat status neurologi secara teratur, badingkan dengan nilai standart
-          Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-          Pantau tekanan darah
-          Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan penglihatan kabur
-          Pantau suhu lingkungan
-          Pantau intake, output, turgor
-          Beritahu klien untuk menghindari/ membatasi batuk, untah
-          Perhatikan adanya gelisah meningkat, tingkah laku yang tidak sesuai
-          Tinggikan kepala 15-45 derajat
  1. Cemas b.d kurang informasi tentang prosedur
Tujuan : rasa cemas berkuang
Tindakan :
-          kaji status mental dan tingkat cemas
-          Beri penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala
-          Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian
-          Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan piiran dan perasaan takut
-          Libatkan keluarga dalam perawatan


DAFTAR PUSTAKA

  1. Doenges, E Marylin (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC
  2. Engram, Barbara (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC
  3. FKUI, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Gesapius
  4. Reeves C, J, (2001), Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, Salemba Medika
  5. Suddart, Brunner (2000), Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC
  6. Ganong, WF, (1996), Fisiologi Kedokteran, Jakarta, EGC
  7. Talbot, LA (1997), Pengkajian Keperawatan Kritis, Jakarta, EGC


Pathway :

Causa Unknown/Idiopatik



























Penekanan Jaringan Otak
 


Bertambahnya massa
 




Invasi Jar. Otak
 


Nekrosis Jar. Otak
 


Penyerapan Cairan Tumor
 







Oedema
 






























Gangguan Pertukaran Gas
 


Ggn Perfusi Jar.
 

Resti Cedera
 

Cemas
 

Perub. Proses pikir
 

Ggn. Rasa Nyaman
 

Mual – muntah
Papiloedema
Pandangan Kabur
Penurunan Fungsi Pendengaran

Nyeri Kepala


 

Ggn Komunikasi verbal
 

Ancaman Kematian
 

Ggn Kesadaran
 

Mensesefalon
tertekan
 

Bicara Terganggu
Berdesis, afasia
 

Bradikardi progresif
Hipertensi sistemik
Ggn pernafasan
 

Herniasi Ulkus
 
                                                                             


ASKEP ABORTUS

-           Infeksi Akut                                 : Pneumonia, Thipii, septikemia, peritonitis
-           Gangguan Endokrin    : Gangguan produksi progesterone, thyroid
-           Gangguan Gizi/Anemia
-           Trauma, baik yang tidak disengaja (mischariage) maupun yang disengaja
  (provokatus)
-           Gangguan faal organ : Hypoplasi uteri, tumor uterus, cervix pendek,
  retrofleksi uteri incarcerata, ggn endometrium



 


ABORTUS (mati janin < 22 mg/< 500 gr)











 


Abortus Spontan Abortus Infeksiosa              Retensi Janin            Abortus Resiko tinggi
                                                                                                (Missed abortion)                (Unsafe abortion)


·       Ab. Imminens              : perdarahan bercak, ada ancaman  kehamilan
·       Ab. Insipiens : Perdarahan ringan dimana hasil konsepsi masih di cavum uteri
·       Ab. Inkomplit
·       Ab. Komplit




Perdarahan                                           Nyeri Abdomen                   Kurang Pengetahuan

















 


Shock                                     Gangguan Rasa Nyaman                                  Cemas


 


Resiko tinggi Infeksi           Devisit Vol. Cairan                              Gangguan Aktivitas                           


Pemeriksaan Diagnostik   :

1.  Test HCG Urine                              Indikator kehamilan                                           Positif    
2. Ultra Sonografi                                Kondisi janin/cavum ut     terdapat janin/sisa janin
3. Kadar Hematocrit/Ht    Status Hemodinamika                       Penurunan (< 35 mg%)
4. Kadar Hemoglobin                         Status Hemodinamika                       Penurunan (< 10 mg%)
5. Kadar SDP                                       Resiko Infeksi                                      Meningkat(>10.000 U/dl)
6. Kultur                                                Kuman spesifik                   Ditemukan kuman




DIAGNOSA  KEPERAWATAN

  1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
  2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
  3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
  4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
  5. Cemas s.d kurang pengetahuan



INTERVENSI KEPERAWATAN :
  1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan
Tujuan   :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
a.       Kaji kondisi status hemodinamika
R : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi
b.       Ukur pengeluaran harian
R : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal
c.        Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif
d.       Evaluasi status hemodinamika
R : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik

  1. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
R : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
b.       Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
R : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
c.        Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
R : Mengistiratkan klilen secara optimal
d.        Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
R : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan
e.        Evaluasi  perkembangan   kemampuan klien melakukan aktivitas
R : Menilai kondisi umum klien

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan   :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
a.       Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
R : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.
b.       Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
R : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
c.        Kolaborasi pemberian analgetika
R : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik


  1. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan   :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
a.       Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
R : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi
b.       Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
R : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
c.        Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
R : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
d.       Lakukan perawatan vulva
R :Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
e.        Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda inveksi
R : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
f.        Anjurkan pada suami untuk   tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa perdarahan
R : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Cemas s.d kurang pengetahuan
Tujuan   :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a.       Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit
R : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
b.       Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
R : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
c.        Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
R : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
d.       Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
R : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan
e.        Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
R : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.




Referensi :
1.       Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad(1981) Obstetri Patologi, Elstar Offset, Bandung
2.       JNPKKR-POGI (2000), Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
3.       Wong,Dona L& Perry, Shanon W (1998) Maternal Child Nursing Care, Mosby Year Book Co., Philadelphia
4.       – (--), Protap Pelayanan Kebidanan RSUD Dr. Sutomo Surabaya, Surabaya